Getaran Cinta Hanna
22.073 tahun yang lalu, sepertinya tak seheboh 6 tahun yang lalu. Minim drama manja, atau keseruan yang agak berlebihan menikmati getaran cinta. Hehe
3 tahun yang lalu, buni masih bisa bermain skipping. Entah maksudnya apa, yang pasti saat itu pengen loncat-loncat. Hampir 40 pekan Lil Hanna di rahim, dan menurut dokter sudah siap untuk terlahir ke bumi.
Selama 5 hari, merasakan kontraksi bukaan 1. Masih enjoy jalan-jalan pagi-malem sama ayah dan kakak, belanja, masak, nyetrika, ngepel. Pokoknya masih belum ada tanda-tanda kelahiran yang nyata.
Nah pas hari ke-6 rasa kontraksi itu malah hilang. Seharian menanti tak kunjung datang. Cek ke bidan terdekat. Meski pembukaan belum bertambah, tapi ternyata harus melahirkan hari itu juga. Dipilihlah induksi vagina.
Induksi pertama jam 8 pagi. Bidan bilang kalo jam 16 belum kerasa harus ditambahin yah. Waduh, padahal saat itu udah deg-degan kontraksi induksi yang (katanya) lebih sakit dari kontraksi normal. Tapi, bismillah. Inj yang terbaik.
Selama hamil buni selalu mensugesti diri dan Lil Hanna untuk bisa lahiran normal.
"Dek, kita saling bantu yah...adek anak shalihah"
Menunggu Sang Getaran yang tak kunjung tiba. Ibu yang mendampingi terus saja bertanya dan memantau tiap gerakan buni.
"Mbak, gimana?"
"Nggak krasa apa-apa bun"
Heeemmm...akhirnya jam 16 buni dan ibu kembali ke Bidan. Wajah bu bidan agak aneh sih. Buni juga khawatir ada sesuatu dengan Lil Hanna.
Akhirnya dicoba induksi ke 2. Kata bu bisan kalo jam 20 belum kerasa apapun, langsung ke Rumah Sakit yah. Nanti bu bidan dampingi. Okay bu.
Telepon ayah untuk segera pulang.
Buni dan ibu pulang jalan kaki. Nggak berapa lama..
"Bun, kok yang ini kayanya udah kerasa yah"
"Tapi masih bisa jalan mbak?"
"Masih, aman"
Sesampainya di rumah memang udah ada ayah. Kontraksi semakin bertambah, durasinya juga semakin lama dan jarak kontraksi 1 dengan berikutnya sudah cukup sering.
Malam itu masih bisa sholat magrib. Sekalian meminta sama Allah agar dimudahkan melahirkan Lil Hanna.
Sesudahnya dipakai tiduran, ayah masih mengobservasi buni sebelum dibawa ke bidan. Ketika akan sholat isya, ternyata darah sudah keluar agak banyak. Alhamdulillah, Lil Hanna bersiap tampil di muka bumi.
Akhirnya setelah ayah sholat kami ke bidan.
Dramapun dimulai...
Kontraksi semakin kencang, ingin ngrasain sambil jongkok tapi nggak boleh sama bidan. Beliau menyuruh buni untuk tiduran saja, sambil miring ke kiri. Kontraksi semakin sering dan lama, rasa tulang kemaluan terbuka semakin menjadi. Allahu akbar, laa haula wallaquwwata illabillah.
Uniknya saat itu, buni merasakan tiap sentuhan siapapun semakin menambah rasa sakit saat kontraksi. Bahkan ketika ayah ingin menangkan buni, harus kena bentakan buni. Hikz.. Pun, bu bidan yang akan mengecek pembukaan. Maafkan buni yah.
Selama kontraksi nggak boleh ada sentuhan sedikitpun.
Tak lama, ternyata ketuban telah pecah. Subhanallahu, itu artinya Lil Hanna harus segera di lahirkan. Pembukaan saat itu kata bu bidan baru 5 jari (padahal selama proses kontraksi buni nggak pernah mengalami pembukaan). Jadi bu bidan, berusaha untuk menjaga perasaan buni agak nggak khawatir. Rasa ingin mengejan semakin keras.
Akhirnya buni mulai proses mengejan. Mengikuti perintah bu bidan dan naluri tubuh. Lil Hanna sempat terhenti ketika kepalanya hampir keluar. Saat itu buni kehabisan nafas. Qaddarullah , buni melahirkan dengan bantuan tangan bu bidan masuk ke jalan lahir. Alhamdulillah Lil Hanna lahir dengan selamat.
Ternyata Lil Hanna tersangkut tali pusar yang membelit hampir keseluruhan tubuhnya. Ini yang membuatnya tak juga turun, dan susah untuk dilahirkan.
Masa perjuangan itu terlewati dengan kelegaan. Bahagia ketika dia untuk pertama kalinya ada didekapan, menyusu, dan merasakan langsung hangatnya kulit Lil Hanna. Sampai-sampai ketika proses menjahit tanpa anastesipun tak terasa sama sekali. Masyaallah.
Akhirnya saya dipindahkan ke ruang pasien. Lil Hanna tidur di tempat tidur, tepat disebelah saya.
Tak lama buni merakan keanehan. Kontraksi itu datang lagi, seolah buni akan melahirkan lagi. Namun setiap kontraksi disertai dengan keluarnya darah. Ya Allah, buni pendarahan. Lumayan banyak, hingga rasa mengantuk tiba. Ayah berusaha membangunkan bidan, tapi tak berhasil. Sampai akhirnya buni tertidur, mungkin pingsan.
Tak beberapa lama, buni tersadar. Alhamdulillah, Allah masih beri kehidupan. Namun sekujur tubuh sudah penuh darah.
Malam itu terlewati dengan rasa was-was.
Pagi menjelang, kondisi buni semakin sehat setelah mengkonsumsi kurma. Pendarahanpun berhenti dengan sendirinya. Hingga menjelang siang buni dipersilahkan untuk pulang.
Namun hingga 7 hari pasca melahirkan, kontraksi itu masih terasa. Hanya bisa berdoa lirih, meminta kekuatan pada Allah untuk menjalani ujian ini.
Alhamdulillah, hanna kini jadi balita yang aktif. Walo sempat terseok karena pneumonia yang menjakiti tubuh shalihah ke 2 kami. Tumbuh menjadi anak yang ceria, ramah, dan agak iseng. Hehehe.
Raihanah Sumayyah Onarista, semoga kelak Allah jadikan ia seorang wanita yang kuat imannya. Hingga apapun fitnah dunia tak akan sanggup meruntuhkan keimanannya pada Islam. Aamiin..



0 komentar